Sabtu, 09 Juni 2012

pemanfaatan sampah plastik melalui daur ulang

MAKALAH
tentang
PEMANFAATAN SAMPAH PLASTIK MELALUI DAUR ULANG




Di susun oleh:



                                                    BAB I
                                                                      PENDAHULUAN
             1. Latar Belakang
Sampah merupakan persoalan klasik di perkotaan. Namun, sampai saat ini masih menjadi masalah yang serius. Disamping rendahnya kesadaran masyarakat atas kebersihan, upaya yang dilakukan pemerintah juga belum optimal. Kalau kita lihat di beberapa tempat pembuangan sampah sementara, pada siang hari banyak tumpukan sampah yang tidak terangkut. Belum lagi, berapa anak sungai yang ‘mati’ akibat adanya sampah yang terus menumpuk. Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola kota adalah masalah sampah.
Masyarakat sampah menurut hemat penulis adalah masyarakat yang selalu menghasilkan sampah setiap hari. Memang sekarang ini tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan sampah, perbedaannya terletak pada kemampuan masyarakat tersebut untuk mengelola sampah, dan kemampuan itu belum terdapat dalam keseluruhan masyarakat kita. Dinegara tetangga kita, Australia, sudah dijual bebas alat pengurai sampah dengan bantuan cacing penghasil humus seperti cacing red worm di plaza-plaza.
Badan pemerintah yang bersangkutan dengan hal tersebut, belum dapat melaksanakan tugasnya dengan baik karena terbentur dengan pola hidup masyarakat sampah yang ada. Teknologi untuk mengatasi sampah kalah cepat dengan fasilitas penghasil sampah. Dampak revolusi industri telah menghasilkan plastik yang penguraiannya memerlukan waktu 500 tahun / kantong, sementara sebagian besar konsumsi kita dibungkus oleh bahan sintetis tersebut.
Pada masa sekarang ini generasi masyarakat sampah sudah beranak pinak memenuhi wilayah kita. Tentunya tantangan untuk kita semua makin banyak untuk mewujudkan wilayah yang bersih dan bungas seperti yang sedang digalakkan oleh walikota.
                                                                                                   
2. Tujuan dan Manfaat penulisan :
 Sebagai wahana introspeksi diri agar mengurangi pola hidup selaku masyarakat sampah,Untuk membuka wawasan kita terhadap masalah sampah, dan Untuk memenuhi salah satu tugas perspektif global. Sedangkan manfaat yang dapat dikemukakan adalah menambah pengetahuan tentang keadaan lingkungan kita dewasa ini, diharapkan dapat memberikan ilham untuk menciptakan alat pengurai sampah untuk daerah kita, dan sebagai feed back untuk aktivitas kita selama ini dalam hal menangani sampah.

 3.Batasan Masalah
Batasan masalah dalam makalah ini adalah hanya membahas tentang masalah sampah yang ada dikota-kota besar secara umum, penyebab dan dampaknya. ditambah dengan beberapa contoh alat pengurai sampah yang ada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.






BAB II
Pembahasan

1.      Kondisi Lingkungan  TPS
Berdasarkan data BPS pada tahun 2000, dari 384 kota yang menimbulkan sampah sebesar 80. 235,87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut ke dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir sebesar 4,2%, yang dibakar 37,6%, yang dibuang ke sungai 4,9% dan yang tidak tertangani sejumlah 53,3%, sedangkan cakupan yang terlayani oleh adanya pelayanan pemerintah dalam pengelolaan sampah hanya 550. 017 jiwa atau 40% (Bappenas, 2002).
Keadaan daerah sekarang yang bisa dilihat, dengar, cium, dan rasakan adalah sampah-sampah di tempat pembuangan sampah sementara yang selalu menggunung, truk-truk sampah yang selalu penuh bahkan kepenuhan, tempat sampah yang kadang kosong karena adanya tumpukan atau ceceran sampah ditempat notabene bukan tempat pembuangan sampah, kumuhnya kawasan karena dihiasi sampah, setiap hari truk sampah dan penyapu jalan bekerja.
Sungai, pojok-pojok jalan, dibawah jendela, kolong rumah, kolong jembatan, di kampus, maupun kos-kosan tidak luput menjadi tempat pembuangan sampah, hampir tidak ada bedanya antara tempat tinggal seorang mahasiswa dengan gembel dibawah jembatan dari segi sampahnya. Apalagi sekarang sebagian mahasiswa terjangkit virus ‘malas membersihkan kos-kosannya’ sehingga sampah-sampah yang dipermainkan kucing berhamburan begitu saja.
Banyaknya sampah-sampah yang tidak terdeteksi ini menambah lengkap penderitaan kota Banjarmasin yang tidak lagi seribu sungai. Disalah satu kampus dari Universitas tertua di Banjarmasin pun, sampah tidak semuanya dikelola dengan baik. Pengalaman penulis, sampah dari kantin hanya ditumpuk begitu saja dalam kantong plastik merah sedikit tersembunyi disemak-semak depan Aula Hasan Bondan dan tidak ada yang perduli dengan hal itu.
Mungkin tidak perlu diuraikan dengan panjang lebar bagaimana keadaan kota kita ini karena teramat parahnya walikota sampai memasang baliho sebesar ± 1 x 2 meter pada beberapa ruas jalan untuk menghimbau warga untuk menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan yang bersih dan bungas.

2.      Penyebab dan Manfaat Sampah Anorganik
Penyebab yang dapat diungkapkan dalam tulisan ini atas masalah yang dikemukakan ada dua, secara internal dan eksternal. Secara internal diantaranya adalah pola pikir masyarakat yang berhasil dibentuk oleh budaya pasar bebas yang tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri bahwa mereka dikonstruk untuk menjadi pendukung budaya konsumerisme, yang mana pusat perbelanjaan dan kaki tangannya sebagai lambang kemodernan. Ada citra harat dan kebanggaan tersendiri apabila sudah menenteng kresek Hypermart, Ramayana, Roberta, atau Mangga Dua, daripada belanja di Pasar Harum Manis atau Sudi Mampir. Sementara yang memakai bakul dari purun dianggap kampungan, padahal secara lingkungan bakul dari purun, paikat, atau daun rumbia lebih ramah lingkungan karena dibuat dari bahan-bahan alami. Di Kuin, barang-barang kerajinan tangan dari bahan-bahan tersebut diatas masih dijual bebas. Memang secara kualitas lebih cepat rusak, tetapi dari segi penguraiannya lebih cepat lingkungan daripada plastik.
Dari pola pikir berkembang menjadi tindakan, kalau internalisasi dan sosialisasi tentang kebersihan dan penempatan sampah kurang, akan menyeret kita menjadi masyarakat sampah, apalagi kalau ditambah dengan ketidakperdulian kita yang selalu beranggapan bahwa masalah sampah bukan urusan dan masalah yang harus dipikirkan. Tindakan yang selalu dilakukan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan berkembang lagi menjadi watak. Apabila membuang sampah sembarangan telah menjadi watak, tidak perduli laki-laki atau perempuan akan tega mencemari lingkungan tanpa rasa bersalah. Sedang penyebab secara eksternal adalah dengan bebasnya peredaran plastik dipasaran bebas dengan berbagai bentuk dan ukuran, dan ada pergeseran arti istilah dalam masyarakat tentang istilah modern dan kampungan.
Selain memiliki dampak yang kurang bermanfaat bagi masyarakat namun sampah juga memiliki manfaat yang sangat besar. Khususnya bagi masyarakat miskin yang berprovesi sebagai Pemulung. Karena dimata mereka sampah adalah sumber rizki bagi keluarganya, dan juga sebagai kerajinan bagi mereka yang memiliki tangan-tangan yang terampil dalam mengolah yang anorganik tersebut. Tapi saat ini sangat jarang sekali orang yang mau mementikan lingkunganya dalam artian tidak mau menjaga lingkunganyaagar tetap bersih dan sehat dari berbagai sumber penyakit yang ada dalam sampah tersebut.

3.     Jenis Sampah Anorganik
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton. Sebagian zat anorganik secara keseluruhan tidak dapat diurai oleh alam/mikroorganisme (unbiodegradable). Sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang lama.

4.     Pemanfaatan sampah menjadi kerajinan
Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar (Syafitrie, 2001).
Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Sasse et al.,1995).
Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia (Syafitrie, 2001).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena (PP), dan asoi.
·         Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks
Di Indonesia, plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pdmbuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan partikel konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200°C).






BAB III
PENUTUP
1.     Kesimpulan
Meskipun tergolong masalah klasik, sampah pada masa sekarang sudah menjadi masalah global. Dibeberapa tempat seperti Bantargebang pada waktu yang lalu sempat terjadi insiden berkaitan masalah sampah. diluar negeri, penanganan sampah juga masih menjadi masalah disamping pencemaran udara. Namun keunggulan mereka dibanding kita adalah lebih tertib dalam menyikapi peraturan pemerintah, tidak seperti kita yang menjadikan banyak aturan pemerintah tidak berfungsi. Sementara para civitas akademika di PT maupun sekolah bukannya ikut memikirkan cara penanganan sampah ditempat kita, sebagian besar malah menjadi masyarakat sampah. karena kalau hanya mengandalkan para petugas kebersihan, sampah akan tetap banyak jika kita tidak ikut membantu. tugas kita tidak selesai dengan hanya membuang sampah ditempatnya. akan lebih baik jika bisa menyumbangkan ide tentang pengurai sampah. sehingga civitas akademika juga punya nilai dimasyarakat dan bukan menjadi klub eksklusif. sudah saatnya Banjarmasin mempunyai alat pengurai sampah sendiri dan bukan hanya mencetak sampahnya saja.  
Untuk berubah kearah sesuatu yang lebih baik tidak semudah berbicara, diperlukan adanya tekad yang kuat dan kemauan yang mantap untuk melakukan perubahan. Selain itu juga diperlukan tim-tim yang tangguh untuk mengajak masyarakat kita melangkah kearah yang lebih ramah lingkungan. Dengan cara yang halus sesuai psikologi urang Banjar yang terbuka dengan sesuatu yang baru dan dengan perencanaan yang tepat, perubahan yang diinginkan insya Allah bisa diraih, and you’ll never know till you have tried
2. Saran
  • Pembinaan secara budaya lebih cantik daripada denda.
  • Ada baiknya kita selaku civitas akademica mau ikut peduli dengan masalah sampah dilingkungan, terlebih dapat memikirkan upaya penanggulangan sampah yang efektif.
  • $3Cli class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-list: l3 level1 lfo2; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; tab-stops: list 36.0pt;">Hendaknya FKIP Unlam selaku institusi pendidikan mengadakan festival alat pengurai sampah kategori pelajar, mahasiswa dan umum seKal-Sel sebagai partisipasi kepedulian terhadap lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA
1.       Sabtu,11 February 2012
2.       Sabtu, 11 February 2012

3.       Sabtu, 11 February 2012

4.       Sabtu, 11 February 2012
file:///E:/DATA ''Q''/Document/Pengolahan Limbah Plastik Dengan Metode Daur Ulang (Recycle)
5.      Minggu, 12 February 2012
file:///E:/DATA%20%27%27Q%27%27/Document/Pengolahan%20Limbah%20Plastik%20Dengan%20Metode%20Daur%20Ulang%20%28Recycle%29%20%20%20Online%20Buku.htm

sumber: http://davin-ari.blogspot.com



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar